
Pada Kamis, 20 Maret 2025, Masjid Mardliyyah Islamic Center mengadakan ceramah menemani tarawih jamaah dengan mengusung tema: “Demokratisasi Energi untuk Kemaslahatan Semesta”. Ceramah ini dibawakan oleh Ahmad Rahma Wardhana, S.T., M.Sc., sebagai salah satu Peneliti Pusat Studi Energi UGM, yang mengulas bagaimana peran manusia dalam pemanfaatan energi di bumi ini.
Ceramah diawali dari permasalahan yang sudah terjadi, dimana Ahmad menjelaskan isu gas rumah kaca (GRK) di Indonesia terbanyak ternyata berasal dari pembakaran batubara. Dengan begitu, beliau menghubungkan sebabnya dan menjelaskan, “Pola konsumsi yang tidak kita sadari mengeksploitasi bumi dengan ganas bila tidak bertanggung jawab.”
Beliau melanjutkan dari mengutip pada laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bahwa emisi dari energi yang tidak berkelanjutan hingga gaya hidup yang tidak ramah lingkungan dapat memengaruhi biodiversitas hingga berdampak mempengaruhi kesehatan manusia. Lalu, Ahmad mengingatkan firman Allah terkait manusia sebagai khalifah di bumi, hingga bagaimana malaikat sempat mempertanyakan penciptaan manusia.
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ٣٠
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” [1]
Beliau meninjau dari ayat tersebut dan melihat polemik dari terjadinya perubahan iklim. “Isu transisi energi jadi penting, dari ¾ energi fosil menjadi energi yang lebih bersih, lebih ramah lingkungan sehingga dapat secara signifikan mengurangi emisi GRK akibat perubahan iklim,” ujar Ahmad dengan seksama.
Beliau melanjutkan dalam ceramahnya, “Demokratisasi energi dilihat dari berlangsungnya transisi energi secara berkeadilan.” Dalam ceramahnya, beliau melanjutkan, bahwa proses dalam yang melibatkan seluruh pihak baik stakeholder dan masyarakat dalam pengambilan keputusan pengelolaan energi di berbagai bidang.
Dalam ceramahnya, beliau berkata, “Lebih baik memelihara dan menciptakan kehidupan yang memakmurkan, daripada merusak lingkungan dan menumpahkan darah.” Dilanjut dengan beliau menjelaskan bahwa islam dan demokrasi itu berkaitan, dimana relasi mutualisme menggambarkan betapa luasnya cakupan al-qur’an yang sempurna dan menjadi pedoman hidup.
Dengan begitu, Ahmad membeberkan nilai-nilai islam yang dapat disikapi diantaranya yang pertama yakni kebebasan, di mana kebebasan yang dibatasi oleh hukum, toleransi dan penghormatan. Melanjutkan dalam nilai-nilai islam, yakni nilai kedua, dengan adanya kesetaraan, layaknya Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memandang makhluk-Nya status kecuali dengan tingkat ketaqwaannya, ditegaskan dalam kutipan firman-Nya:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ ١٣
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. [2]
Selanjutnya, nilai ketiga, dengan islam dan demokrasi adalah sama menyepakati atas penghormatan manusia, baik proses dalam keagamaan islam maupun bermasyarakat. Nilai keempat yakni keadilan yang ditempatkan sesuai dengan posisinya. Yang terakhir, nilai kelima, terkait nilai musyawarah yang dapat mengikis kesombongan diri dikesampingkan untuk mengurus hal penting terkait urusan orang banyak.
Ahmad Rahma kembali melihat yang terjadi di lapangan, dimana sebagian lain mencederai demokrasi yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Mulai proyek energi panel surya yang cenderung dipercepat dan tidak merata, dikebutnya eksploitasi tambang nikel untuk kebutuhan kendaraan listrik.
Beliau mengungkapkan, “Instead of memberi pengetahuan kepada masyarakat, maka memberi percepatan pada korporasi.” Penjelasan ini menggambarkan bagaimana negara yang cenderung memberi jalan pada korporasi tanpa melibatkan masyarakat, sehingga terjadinya perusakan penghidupan masyarakat itu sendiri.
Beliau mengutip dalam kitab Al-Hikam, dengan bunyi:
مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلَّا عَلَى بِذْرِ طَمَعٍ.
Tidaklah tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan. (Ibnu ‘Athā’illāh al-Iskandarī)
Dalam kutipan ini dijelaskan bagaimana banyak yang hanya ingin menabung keuntungan tanpa memperdulikan lingkungan dan masyarakat. Sehingga akibatnya Allah mendatangkan bencana, seperti akibat-akibat perubahan iklim yang telah dirasakan sekarang.
Menyikapi dari isu yang terjadi, sebagai umat yang budiman, baiknya kita memperbaiki apa yang membuat hal itu tidak sesuai dengan nilai islam dan demokrasi. Misalnya, sebaiknya kita tidak boleh lagi membuang-buang bahan bakar minyak (BBM) serta memakai listrik secara sembarangan.
Mulai dari hal kecil akan mempengaruhi yang lain menjadi manfaat yang besar. Dengan begitu, kita dapat menghindari dari perilaku mengabaikan perintah dari Allah ta’ala sehingga alam yang dimanfaatkan lebih bijak. (Monica Nasywa: Tim Redaksi RBM 1446 H)