Menurut Dr. Mohamad Yusuf, tujuan utama dari ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertaqwa. Ia mengutip firman Allah dalam Surah At-Talaq ayat 2-3, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ia menjelaskan bahwa ketakwaan bukan hanya soal menjalankan ibadah ritual, tetapi juga menyangkut kepekaan sosial, integritas, dan keberdayaan umat.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, puasa diperintahkan untuk membentuk ketakwaan. Ayat-ayat setelahnya menggambarkan berbagai aspek bulan Ramadan, termasuk sebagai bulan Al-Qur’an (ayat 185) dan momentum mendekatkan diri kepada Allah (ayat 186). “Allah lebih dekat kepada kita dibanding urat nadi kita sendiri. Maka, siapa yang berdoa kepada-Nya dengan penuh keimanan dan ketaatan, pasti doanya akan dikabulkan,” ujarnya.
Salah satu wujud ketaatan kepada Allah adalah dengan memakmurkan masjid. Beliau mengutip Surah At-Taubah ayat 18, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta menegakkan sholat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.” Ia menjelaskan bahwa masjid seharusnya menjadi pusat kehidupan umat Islam, bukan sekadar tempat sholat.
Masjid, menurut Dr. Mohamad Yusuf, memiliki peran lebih luas, termasuk sebagai pusat pendidikan, sosial, dan ekonomi. “Di masa lalu, peradaban Islam tumbuh dan berkembang dari masjid. Di sana, para ulama dan cendekiawan berkumpul, membahas ilmu, dan mencari solusi bagi persoalan umat,” jelasnya. Namun, saat ini, banyak negara Muslim tertinggal dalam berbagai indikator keberdayaan, termasuk dalam aspek pendidikan dan kesejahteraan sosial.
Menurutnya, kondisi ini terjadi karena umat Islam belum sepenuhnya memanfaatkan fungsi masjid sebagai ruang pembelajaran dan penguatan sosial. Oleh karena itu, ia mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai tempat bertukar ide dan merancang solusi atas persoalan umat. “Jika kita ingin umat Islam bangkit, maka masjid harus kembali menjadi pusat akademik dan sosial,” tuturnya.
Sebagai penutup, Dr. Mohamad Yusuf mengajak jamaah untuk terus memakmurkan masjid sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. “Ketika kita mencapai derajat ketakwaan, insyaAllah segala hajat kita akan dikabulkan,” pungkasnya. Ceramah ini menjadi pengingat bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kemanusiaan dan peradaban yang harus terus dihidupkan oleh umat Islam. (Muhammad Azriel Ramadhan: Tim Redaksi RBM 1446 H)