Pada Kamis (20/3/2025) di waktu sahur, Ramadhan Berkah Mardliyyah 1446 H telah melaksanakan Kalam Sahur yang diisi oleh Dr. Wajid Fauzi, M.PM. selaku Duta Besar RI untuk Suriah. Kalam Sahur sebagai acara untuk mengenai tradisi dan budaya Ramadhan dari berbagai negara di dunia, kali ini menyoroti bagaimana kebiasaan masyarakat Suriah termasuk pada tantangan yang sedang dihadapi saat ini.
Beliau mengawali pembiacaraan ini dengan menyebutkan bahwa Ramadhan di Suriah tahun ini dimulai pada musim dingin dimana suhu mencapai -2° hingga 6° Celcius. Namun semakin lama cuaca semakin hangat dan ini juga berkaitan dengan durasi puasa yang ikut berubah dari awalnya 13 jam, saat ini bisa kurang lebih 14 jam.
Beliau menjelaskan bagaimana Suriah memiliki kaitan dengan perkembangan peradaban sejarah Islam misalnya di zaman khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar bin Khattab. Pada saat itu tercatat bahwa kota Damaskud berhasil ditakukkan oleh Khalid bin Walid yang selanjutnya membawa kemajuan pesat bagi kota tersebut terutama pada segi kebudayaan dan arsitektur.
Pada situasi terkini, masyarakat dan pemerintah Suriah sedang mengalami masa transisi pemerintahan sejak 24 Desember 2024 lalu. “Pergantian kekuasaan tersebut seolah mendandai chapter baru, chapter berikutnya dari sebuah krisis yang panjang yang mulai terjadi sejak tahun 2011,” imbuh beliau. Krisis di Suriah ini telah terjadi selama itu yang berkemelut juga soal situasi kemanusiaan dimana awalnya hanya pertentangan antar kelompok masyarakat, kini telah jauh melibatkan berbagai tokoh asing dan tokoh di luar negara itu sendiri. Pemerintahan baru ini disebutkan beliau sedang berupaya mengkonsolidasikan dalam membangun kembali persatuan masyarakat dan wilayahnya.
Perlawanan masih terjadi di beberapa tempat Suriah bahkan proyeksi ke depannya masih akan menghadapi masalahnya tersendiri. Namun demikian, masyarakat Suriah masih melalukan ibadah puasa dengan segala tantangan yang dimiliki tersebut. “Indonesia melihat bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Suriah hanya bisa diselesaikan oleh masyarakat Suriah dengan suatu proses yang inklusif dan demokratik dan menngedepankan kesejahteraan dan keselamatan masyarakatnya,” Dr. Wajid menambahkan. Beliau juga menegaskan bahwa peran Indonesia di sini yang lebih fokus pada kepentingan memelihara persahabatan antara Indonesia dengan Suriah untuk menjaga hubungan yang telah berlangsung lama sejak 1947 lalu, ialah ketika delegasi Suriah bersedia mendukung kemerdekaan Indonesia pada waktu itu.
Konflik yang panjang ini pada akhirnya berpengaruh pada aspek ekonomi masyarakat dan situasi secara nasional, termasuk pada nilai mata uang Suriah itu sendiri yang sangat anjlok dibandingkan dengan mata uang dollar. 1 dolar yang setara dengan 50 lira Suriah ini mempengaruhi daya beli masyarakat Suriah sehingga berakibat pada lemahnya perekonomiannya secara nasional.
“Di tengah keterbatasan dan kendala tersebut, kami mengamati bahwa umat Islam Suriah tetap secara khidmat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tidak ada perubahan sebagaimana sebelumnya,” tegas Dr. Wajid. Beliau mendeskripsikan suasana Ramadhan yang terjadi di Suriah saat ini dimana ramai jamaah dalam melaksanakan sholat Tarawih serta para dermawan yang menyediakan buka puasa di masjid dan tempat-tempat yang mereka tentukan.
Adapun beberapa makanan yang secara khusus muncul di bulan Ramadhan. Sama halnya dengan Indonesia, di Suriah juga memulai takjil manis-manis seperti kurma dan minuman yang keluar hanya di bulan Ramadhan yaitu sahlab. Dr. Rajid juga menjelaskan keunikan pada kebiasaan di sana bahwa undangan tidak hanya ditujukan untuk buka bersama saja tapi juga undangan untuk sahur bersama yang biasanya diindormasikan pada jam 10 malam.
Beliau juga menyebutkan kebiasaan masyarakat Suriah pada kelompok tertentu ketika menjelang sahur berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, “Mereka berteriak sahur-sahur, kemudian membawa tambur yang ditabuh untuk membangunkan masyarakat untuk melaksanakan sahur.” Kebiasaan ini mirip dengan apa yang juga dilakukan masyarakat Indonesia ketika menjelang sahur dimana hal ini sangat baik secara sosial. Berbagai aktivitas yang masih terselenggara di Suriah ini mengisyaratkan bahwa ibadah puasa tetap ramai dijalankan mereka di tengah polemik negara yang ada.
“Ramadhan adalah kesempatan bagi kita semua untuk memupuk kesabaran, semangat ini juga yang melandasi seluruh masyarakat Suriah yang melaksanankan ibadah puasa tetap menjalankan puasanya di tengah berbagai tantangannya yang ada,” tegas Dr. Wajid menjelang akhir pembicaraan pada kalam sahur ini. Beliau juga menyoroti pelajaran yang sangat penting tentangnya bagaimana sikap kepedulian dan solidaritas dalam masyarakat di sebuah negara. Pelajaran berharga betapa pentingnya persatuan dan kesatuan seluruh elemen masyarakat sebagai kunci membangun negara yang kuat. Kemudian perlunya mengedepankan dialog atau musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, “Dan kita hindari sejauh mungkin penggunaan kekerasan dalam penyelesaian masalah.”
Melalui kalam sahur hai ini, kita semua diingatkan kembali untuk selalu bersyukur di tengah situasi yang sedang dihadapi saat ini. Hendaknya kita tidak melalaikan ibadah kita kepada Allah Swt. agar senantiasa diberikan rahmat dan karunia-Nya agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. (Callysta Inas: Tim Redaksi RBM 1446 H)