
Mardliyyah Islamic Center kembali mengadakan diskusi terkait isu-isu terkini dalam program MIC Open Discourse. Pada Kamis, 05 September 2024, MIC Open Discourse membahas isu bertajuk “Nilai dan Moralitas Kepemimpinan dalam Islam” yang disampaikan oleh Prof. Dr. Armaidy Arnawi, M.Si. (Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM).
Pada kesempatan ini, Armaidy Asnawi menyampaikan bahwa pada hakikatnya pemimpin yang baik tidak dinilai dari seberapa halus tutur katanya, tetapi dari bagaimana cara yang dilakukan untuk melaksanakan kekuasaannya. Mayoritas pemikiran tentang kepemimpinan lahir karena adanya abuse of power (tindakan penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh seorang penguasa), sebagai contoh lahirnya pemikir-pemikir sebagai respon akibat penyalahgunaan kekuasaan penguasa seperti Thomas Hobbes di Inggris akibat perilaku Raja John yang sewenang-sewang. Sedangkan pemikir-pemikir terkait isu lingkungan dan industrialisasi banyak diangkat di negara-negara Nordik sebagai contoh Ben Anderson yang mengangkat pemikiran tentang kebahagiaan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai dan moralitas suatu bangsa sangatlah penting.
Armaidy Asnawi menambahkan bahwa pada hakikatnya nilai-nilai yang terkandung dalam Islam itu baik, tetapi pada realitanya terdapat kontras yang cukup besar antara nilai dan ciri yang melekat pada orang yang memegang nilai tersebut. Masih banyak masyarakat yang belum mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tertentu tapi menjadikan nilai tersebut menjadi sebuah jargon. Ia mengutip pendapat Plato bahwa segenggam kekuasaan lebih efektif dari sekeranjang kebenaran. Ia menjelaskan bahwa praktik kapitalisme menjadi salah satu penyebab terjadinya ketimpangan di Indonesia, sebagai contoh Gojek yang menghitung transaksi per kegiatan. Ia juga membandingkan kapitalisme yang terjadi pada masa sekarang dengan praktik kapitalisme pada masa Karl Marx. Praktik kapitalisme yang terjadi pada masa sekarang menyebabkan kondisi ketimpangan yang sangat serius ia menyebut kapitalisasi sekarang dengan sebutan “Rampok rasa copet”.
Armaidy menekankan bahwa pada prinsipnya seorang pemimpin adalah pemegang kekuasaan, sehingga dalam Islam terdapat nilai dan moralitas. Dalam menentukan sebuah kebijakan, seorang pemimpin seharusnya melakukan penilaian yang objektif. Ia juga menjelaskan bahwa kesuksesan Nabi Muhammad saw. didukung adanya intangible assets yang berupa Al-Qur’an dan Hadits. Seorang pemimpin sebagai pemegang kekuasaan harus memiliki dasar nilai atau kebijaksanaan yang dianut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seorang pemimpin yang baik menurut Islam adalah seseorang yang mendasari setiap kebijakannya berdasarkan nilai-nilai yang terkandung pada Al-Qur’an dan Hadits. (Sayyidah Khalimastunsakdiyah: Peserta Seleksi Tim Redaksi RBM 1446 H)