“Membaca Al-Qur’an harusnya seperti bercermin, yaitu melihat diri sendiri lewat ayat-ayatnya,” Ustaz Achmad Rafiq
Yogyakarta, 6 Maret 2026 – Masjid Mardliyyah Islamic Center (MIC), Universitas Gadjah Mada kembali mengadakan Ngaji Kitab Marah Labid dengan tema “Q. S. Ath-Thariq”, bersama Ustaz Achmad Rafiq, M. Ag., Ph. D. selaku Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Surah At-Thariq merupakan salah satu surat yang menggambarkan kekuasaan Allah melalui fenomena alam untuk mengingatkan manusia tentang hari kebangkitan atau hari kiamat. Kajian dimulai dengan ayat ke sembilan yang berbunyi
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ ٩
Ayat ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat semua rahasia akan ditampakkan. Seluruh kebaikan maupun keburukan akan nampak pada wajah-wajah setiap manusia. Mereka tidak lagi dapat menyembunyikan rasa takut, gelisah, sesal, maupun bahagia. Ustaz turut mengingatkan tentang pentingnya wakaf pada ayat sebelum ini. “Jika seseorang berhenti pada kata “laqādir”, maka maknanya hanya menunjukkan bahwa Allah mampu mengembalikan manusia di dunia. Namun jika bacaan dilanjutkan hingga “yauma tublas sarā’ir”, maka maknanya menjadi jelas bahwa Allah mampu membangkitkan manusia pada hari kiamat ketika semua rahasia dibuka,” jelasnya.
Ayat berikutnya, yakni
فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ ١٠
Menjelaskan bahwa tidak ada kekuatan dan penolong bagi manusia pada hari kiamat. Tidak ada lagi yang dapat menyelamatkan mereka ketika azab Allah telah datang. Ayat selanjutnya lantas menjelaskan bahwa Allah kembali bersumpah dengan fenomena alam, yakni langit yang memiliki hujan serta bumi yang terbelah untuk menumbuhkan tanaman sebagai sebab adanya kehidupan manusia. Melalui sumpah ini, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan yang benar dan pasti.
اِنَّهُمْ يَكِيْدُوْنَ كَيْدًاۙ ١٥
Memasuki ayat ke lima belas, Allah menerangkan mengenai orang-orang kafir di Makkah yang melakukan tipu daya kepada Nabi Muhammad dan para sahabat. Mereka merencanakan berbagai hal jahat. “Mulai dari gangguan, fitnah, hingga pembunuhan,” jelasnya. Namun, melalui ayat selanjutnya, dijelaskan bahwa Allah membalas tipu daya mereka. Salah satu bentuk tipu daya tersebut adalah pemberian kenikmatan hidup kepada mereka yang terus berbuat maksiat. “Kenikmatan tersebut adalah penangguhan yang suatu saat dapat berakhir lewat azab maupun kematian yang terasa tiba-tiba,” lanjutnya.
Sebagai penutup surat, Allah meminta Nabi Muhammad untuk tidak terburu-buru mendoakan kebinasaan bagi orang-orang yang membangkang karena tugas Nabi hanyalah membawa dan menyampaikan nasihat serta peringatan. Nabi diutus bukan sebagai pembawa laknat, melainkan sebagai rahmat seluruh alam. Oleh karena itu, Nabi Muhammad dan para sahabat tetap bersabar hingga datang ketentuan Allah untuk melawan, seperti melalui perang.
Secara keseluruhan, Surah At-Thariq mengajarkan bahwa ketika Allah menunjukkan fenomena alam, hal itu bertujuan agar manusia menyadari kekuasaan-Nya dan tunduk kepada-Nya. Alam semesta tunduk kepada Allah, maka manusia pun seharusnya tunduk kepada-Nya.
Wallahu a’lam bis-sawab
Hana Hafizhah: Tim Redaksi RBM 1447 H