Permasalahan gender seakan telah menjadi masalah klasik yang tak pernah berakhir. Struktur sosial sering menganggap rasa sakit seorang wanita sebagai sebuah pengorbanan yang wajar. Mereka sering menganggap bahwa wanitalah yang harus berkorban. Lantas, bagaimana Islam memandang hal tersebut?
Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Masjid Mardliyyah Islamic Center (MIC), Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengadakan Ceramah Tarawih pada bulan Ramadan 1447 H dengan mengusung tema “Kesehatan Perempuan dan Rasa Sakit yang Tidak Tampak”. Kajian kali ini dibersamai oleh Dr. Fatma Zuhrotun Nisa, S.T.P, M.P. selaku dosen dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Beliau juga merupakan seorang pengasuh di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak.
“Sejak dulu sejarah perempuan tidak pernah indah selalu ada sejarah kelam. Hingga hari ini sejarah kelam yang terjadi pada wanita masih belum berakhir,” ucap Fatma sebagai pembuka kajian kali ini. Ia kemudian menjelaskan bagaimana posisi wanita acap kali terpinggirkan dalam struktur sosial. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di berbagai negara, seperti kasus para suami di Jerman yang mempertaruhkan istri mereka di meja judi, serta di Cina seorang istri dilarang menikah setelah suaminya meninggal.
Kemudian Fatma melanjutkan pembahasan mengenai kekeliruan konseptual pada orang-orang barat yang menganggap Islam telah melakukan diskriminasi pada wanita. Beliau menyalahkan tuduhan itu dan mengatakan bahwa justru Islam yang memberi kesetaraan pada wanita, yang mengangkat derajat mereka. “Yang mendiskriminasikan adalah rakyat Jahiliah,” tegas Fatma.
Islam memandang pria dan wanita dengan kedudukan yang setara. Dalam Q.S. An – Nahl ayat 97 yang berbunyi:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Barang siapa mengerjakan kebajikan sekecil apa pun, baik dia laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman dan dilandasi keikhlasan, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia dan akan Kami beri dia balasan di akhirat atas kebajikannya dengan pahala yang lebih baik dan berlipat ganda dari apa yang telah mereka kerjakan.”
Ini berarti bahwa Allah akan senantiasa memberikan pahala bagi siapapun yang beramal saleh, baik untuk pria maupun wanita. “Derajat manusia ditentukan oleh ketakwaannya bukan jenis kelaminnya,” ucap Fatma.
Pembahasan kajian selanjutnya masuk ke dalam ranah kesehatan. Fatma, sebagai seorang dosen di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM menjelaskan bagaimana definisi sehat yang sesungguhnya. Sehat fisik adalah kondisi ketika tubuh tidak mengalami gangguan sama sekali, berfungsi optimal, bebas dari penyakit, dan mampu beraktivitas dengan energi cukup tanpa kelelahan berlebihan. Kondisi ini mencakup kebugaran dan kemampuan gerak. Selain itu, sehat fisik juga didukung oleh pola makan sehat, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung terkait perbedaan antara karakter laki-laki dan perempuan. Beliau menjelaskan bahwa perempuan cenderung menggunakan perasaannya yang membuatnya seringkali mudah tersinggung, sedangkan laki laki cenderung menggunakan logikanya. Perempuan dapat melakukan banyak pekerjaan sekaligus atau multitasking, sedangkan laki laki cenderung terfokus pada satu pekerjaan saja atau single tasking. Perempuan memiliki kecerdasan bahasa yang lebih unggul dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki dibekali karakter sebagai seorang pemimpin yang dapat membuat mereka ingin dihormati. Hal ini juga dapat membuat seorang laki-laki tidak suka digurui. Di sisi lain, mereka juga mempunyai keberanian sosial dan punya sikap melindungi.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa wanita mengalami masa kelam yang cukup panjang. Mereka seolah terpinggirkan dalam kehidupan ini. Islam mengajarkan bahwa tidak terdapat superioritas terhadap gender tertentu. Kedatangan Islam memperbaiki kedudukan wanita dalam struktur sosial. Islam hadir untuk mengangkat derajat para wanita. Tidak dapat dipungkiri bahwa pria dan wanita memang memiliki perbedaan yang tidak dapat dihilangkan, namun itu bukanlah alasan untuk berbuat buruk kepada mereka.
Wallahu a’lam bis-sawab
Ar Ruum Dwi Yuliana: Tim Redaksi RBM 1447 H