Hutan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Lantas apa yang dilakukan manusia terhadap hutan?
Yogyakarta, 11 Maret 2026 – Masjid Mardliyyah Islamic Center (MIC), Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengadakan Ceramah Tarawih pada bulan Ramadan 1447 H dengan mengusung tema “Peran Aktif Masyarakat Kota dalam Pelestarian Ekosistem Hutan”. Kajian kali ini dibersamai oleh Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU. selaku dosen dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Hubungan antara masyarakat kota dengan hutan bukanlah ilusi semata.Udara segar dan air yang melimpah serta keindahan alam yang dapat dinikmati di perkotaan adalah hasil dari ekosistem hutan itu sendiri, sayangnya tidak banyak dari masyarakat kota yang dapat melihat hal tersebut.
Allah berfirman pada surah Al Baqarah ayat 30 yang berbunyi,
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Dalam ayat tersebut, khalifah yang dimaksud bukanlah sebagai penguasa. Namun, sebagai seorang pengganti atau pemimpin yang senantiasa menjaga segala yang diciptakan Allah untuk manusia. Hal ini menegaskan bahwa selain menikmati apa yang telah Allah ciptakan, manusia juga memiliki kewajiban untuk merawatnya.
Hatma menjelaskan bahwa sebagai negara tropis, Indonesia memiliki dua musim salah satunya adalah musim penghujan. Musim hujan di Indonesia ditandai dengan adanya dua puncak, yaitu di awal dan akhir dengan intensitas hujan yang cukup tinggi. Hal ini menimbulkan risiko terjadinya bencana, seperti banjir yang terjadi di Sumatera. Hatma juga menjelaskan bahwa Indonesia mengalami peningkatan kejadian bencana hidrometeorologi. Pada dasarnya, alam memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri, namun apabila manusia tidak mampu menangani kerusakan yang terjadi kemampuan tersebut akan menurun seiring waktu. “Setiap pembangunan akan menimbulkan dampak dan dampak itu berujung pada kerusakan lingkungan,” tegas Hatma.
Hatma mengingatkan supaya manusia selalu berkontribusi untuk menjaga ekosistem di bumi ini tidak peduli sekecil apapun tindakan tersebut. Beliau juga memperingatkan bagaimana bumi mulai membentuk tatanan iklim yang baru. “Saya menganggap istilah perubahan iklim itu sudah tidak tepat yang lebih tepat adalah kita memasuki pola iklim yang baru,” tegasnya.
Dosen Fakultas Kehutanan tersebut kembali menegaskan bahwa kontribusi untuk menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Beliau mencontohkan beberapa tindakan kecil dapat turut berkontribusi, seperti hemat dalam menggunakan air sebagai bentuk menghargai sumber daya air, mengurangi sampah, menghijaukan lingkungan, dan mendukung program-program ramah lingkungan.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa sudah seharusnya manusia menjaga lingkungan sesuai dengan perintah Allah. Proses kontribusi dalam upaya menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar dan berat, tetapi proses tersebut dapat dilakukan dengan langkah kecil dan yang paling sederhana.
Wallahu a’lam bis-sawab
Ar Ruum Dwi Yuliana: Tim Redaksi RBM 1447 H