“Tujuh puluh persen penyebab stunting berasal dari ekosistem anak bertumbuh.”
Yogyakarta, 10 Maret 2026 – Masjid Mardliyyah Islamic Center (MIC), Universitas Gadjah Mada mengadakan Kajian Iftar Ramadan 1447 H dengan tema “Stunting Akibat Ketimpangan Akses Pendidikan dan Kesehatan” bersama Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), mantan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sekaligus Wali Kota Yogyakarta.
“Stunting perlu menjadi perhatian karena berpengaruh ke kualitas sumber daya manusia (SDM),” kata Hasto seraya membuka kajiannya. Menurutnya, stunting merupakan salah satu masalah penting yang berkaitan erat dengan ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kualitas SDM di masa depan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada 2030, seperti menghapus kelaparan dan menurunkan angka kematian bayi. Di sisi lain, Indonesia akan mencapai kondisi bonus demografi pada 2045, ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan penduduk usia non-produktif. Apabila kualitas SDM tidak memadai, kondisi ini akan menjadi beban alih-alih mencapai kesejahteraan.
Demi menuju Indonesia maju, terdapat beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan. Pertama, SDM harus bebas dari stunting. Kedua, produktivitas masyarakat meningkat dan tidak adanya pengangguran. Ketiga, uang hasil bekerja diinvestasikan untuk lapangan pekerjaan baru. Keempat, perempuan perlu didorong untuk berpartisipasi di dunia kerja. “Perempuan itu sebenarnya punya umur hidup yang lebih panjang dibanding laki-laki,” terang Hasto.
Pengukuran kualitas SDM di suatu negara ditentukan berdasarkan Human Capital Index (HCI) yang menilai seberapa produktif orang bekerja dengan beberapa indikator, di antaranya angka kematian ibu dan balita, tingkat pendidikan, dan prevalensi stunting anak di bawah usia lima tahun. Angka HCI Indonesia masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara ASEAN, contohnya Filipina. Hal tersebut disebabkan prevalensi stunting di Indonesia yang cukup tinggi dengan tingkat pendidikan rendah.
“Tidak usah tersinggung jika ranking rata-rata IQ Indonesia berada di 130,” ujarnya sambil menunjukkan peringkat rata-rata IQ beberapa negara. Hal ini disebabkan stunting turut memberi dampak terhadap kemampuan kognitif. Maka dari itu, Indonesia harus menjadikan peringkat tersebut sebagai bahan refleksi agar terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Secara umum, penyebab stunting terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni faktor spesifik dan faktor sensitif. Faktor spesifik berkaitan dengan asupan gizi, sementara faktor sensitif berkaitan dengan ekosistem tempat anak bertumbuh, seperti pendidikan, sanitasi, dan kondisi lingkungan. “70% penyebab stunting berasal dari faktor sensitif,” terang Harso. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya anak yang mendapat makanan bergizi tetapi tumbuh di lingkungan kotor tetap berisiko mengalami stunting. “Kondisi mental keluarga ikut mempengaruhi tumbuh kembang anak,” tambahnya.
Pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum pernikahan atau pada tahap prakonsepsi. Calon pasangan perlu melakukan pemeriksaan kesehatan. Wanita dipastikan tidak underweight dan memiliki kadar hemoglobin cukup, sementara pria diminta mengonsumsi zinc, menghindari rokok, dan menjaga gaya hidup sehat. Setelah itu, pasangan diharap memperhatikan 1000 hari pertama tumbuh kembang anak karena di masa ini fondasi perkembangan fisik dan kognitif manusia terbentuk. Pemenuhan gizi, kesehatan ibu, serta lingkungan perlu mendapat perhatian lebih selama periode ini.
Pada intinya, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, perbaikan sanitasi dan lingkungan, kesadaran perilaku masyarakat, sampai kebijakan pemerintah yang tepat sasaran. Dengan demikian, Indonesia dapat mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan produktif untuk mencapai Indonesia Emas 2045.
Wallahu’alam bish shawab
Hana Hafizhah: Tim Redaksi RBM 1447 H