“Kita tidak pernah dilihat menjadi manusia utuh, melainkan menjadi konsumen untuk industri.”
Yogyakarta, 9 Maret 2026 – Masjid Mardliyyah Islamic Center (MIC), Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengadakan Kajian Iftar pada bulan Ramadan 1447 H bersama Dr. Muhammad Faisal, peneliti muda dan pendiri Youth Laboratory Indonesia. Tema pada kajian kali ini berkaitan dengan “Tantangan Ketimpangan Akses dalam Digitalisasi Layanan Publik”.
Faisal memulai kajian dengan sebuah penjelasan mengenai dinamika pesan-pesan yang disampaikan oleh AI (Artificial Intelligence). Salah satu pesan yang paling disorot oleh beliau berkaitan dengan isu AI yang digunakan dalam perang Iran–Amerika. Selain itu, AI juga dikaitkan dengan youth center atau anak muda yang bergerak secara masif. “Teknologi AI erat dan berdampak dekat dengan anak muda,” tuturnya.
Lebih lanjut, Faisal menjelaskan mengenai referensi AI, yaitu penasihat White House yang menulis buku The Singularity Is Near. Dalam buku ini dijelaskan mengenai etos yang bekerja dalam dunia teknologi, salah satunya AI. Faisal menjelaskan bahwa segala transformasi yang terjadi untuk menciptakan AI tidak serta-merta hadir begitu saja. Hal ini merupakan hasil dari olah pikiran yang telah dirancang sejak lama. Dari kemudahan yang ditimbulkan, ia menyoroti sisi gelap penggunaan AI dari konsep singularity, mulai dari penggunaan air untuk mendinginkan sistem hingga efek kecanduan lainnya.
Kemudian, Faisal menegaskan bahwa segala masalah yang ada di bumi tidak perlu diubah apabila memang sudah tidak dapat diubah. Hal lain yang turut diperbincangkan adalah mengenai AI, terutama ketika perang telah mulai menggunakan teknologi tersebut sebagai alat (tools). Selain itu, kritik terhadap hadirnya teknologi ini melahirkan penjelasan mengenai solutionism, yaitu sebuah paradigma baru yang dianggap mampu mengatasi gempuran berbagai teknologi yang terus berkembang.
Dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu bagi manusia selayaknya memiliki makna, bukan sekadar isi semata. Banyaknya kerusakan di muka bumi telah merusak berbagai tatanan kehidupan sehingga manusia kemudian menjadikan AI sebagai salah satu sarana untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan dan misteri yang berusaha mereka pecahkan. Hal ini terjadi karena dalam diri manusia masih tersimpan begitu banyak pertanyaan dan misteri yang ingin dijawab melalui berbagai perspektif, termasuk dengan bantuan AI.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Ila Zulfa Fadlila: Tim Redaksi RBM 1447 H