
Ramadhan Berkah Mardliyyah 1446 H mengundang Moch. Najib Yuliantoro, S.Fil., M.Phil., Dosen Filsafat UGM, pada Sabtu (1/3/2025) sore hari sebagai pembicara acara Kajian Iftar. Tema yang diusung dalam Kajian Iftar kali ini adalah “Manusia dan Tanggung Jawabnya: Sebuah Refleksi Filsafat Islam tentang Kehidupan”.
Dalam Kajian Iftar ini Najib menjelaskan tentang tanggung jawab manusia di dunia yang dikaji dalam pandangan Filsafat Islam. Najib mengungkapkan ada beberapa tanggung jawab manusia selama hidup.
“Menurut filsafat Islam, manusia bertanggung jawab atas segala ciptaan Allah, senantiasa berpikir secara rasional, membersihkan hati, selalu belajar ilmu agama, dan bertanggung jawab mencari kebenaran sendiri,” jelasnya.
Kemudian Najib menjelaskan bahwa tanggung jawab adalah amanah baik itu kepada Allah, diri sendiri, orang lain, bahkan lingkungan.
“Manusia itu adalah khalifah di muka bumi ini. Jadi apabila ada orang yang merusak bumi, maka dia sudah tidak memenuhi hakikatnya. Maka dari itu, ilmu itu perlu bagi manusia untuk bisa mengelola seluruh ciptaan Allah,” tambahnya.
Mengutip dari Aristoteles, Najib menambahkan bahwa manusia dikategorikan menjadi makhluk vegetatif (seperti tumbuhan, membutuhkan makan dan minum), sensitif (seperti hewan, bergerak dan merasakan emosi), dan rasional.
“Rasionalitas diharapkan untuk terus diperkuat hingga titik optimum sehingga mencapai suatu kebijaksanaan,” tambahnya.
Najib juga mengungkapkan bahwa dalam Islam penekanan hawa nafsu juga menjadi salah satu tugas dan tanggung jawab manusia dalam mencapai suatu kebenaran.
“Akal itu tidak cukup untuk memadai suatu kebenaran. Kebenaran itu bisa dicapai apabila bisa mengendalikan hawa nafsu,” ucap Najib yang dikutip dari perkataan Al Ghazali.
Dalam pandangan Islam, mengutip Al Farabi, Najib menyampaikan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan politik yang tidak bisa hidup sendiri.
“Manusia bisa menjadi manusia seutuhnya apabila dia berkembang bersama di tengah-tengah yang lain,” jelasnya.
Pada akhir penyampaian materi, Najib mengingatkan bahwa manusia adalah tempatnya salah sehingga ketika ada tanggung jawab yang tidak dikerjakan, bisa segera meminta ampunan Allah SWT.
“Kemudian manusia pada hakikatnya pelupa dan tempatnya salah sehingga orang-orang yang mendapatkan taubat dari Allah maka akan dilancarkan rezeki dan segala urusannya dengan lewat istighfar,” pungkasnya. (Maulida Wulandari: Tim Redaksi RBM 1446 H)
